Selamat! Khurotin Anggraeni, M.Pd.I Resmi Menyandang Gelar Doktor
Oleh: Ali Anwar Mhd Iya ujian terbuka. Ujian terbuka itu ujian tahap akhir bagi mahasiswa Pascasarjana program doktoral, setelah melalui tahap ujian tertutup, ujian proposal, dan menyelesaikan semua materi perkuliahan. Sulit. Iya sulit. Untuk bisa mencapai titik tahap terakhir yang disebut ujian terbuka, membutuhkan perjuangan sangat panjang. Tidak bisa hanya bermodal ketercukupan uang saja, tapi harus memiliki kecakapan menyelesaikan (lulus) setiap tahap yang dijalani. Rintangan berat yang hadir antara lain, pada saat mencari tema, teori induk, pemilihan situs penelitian atau lokus penelitian, yang harus sesuai berdasar relevansi keilmuan, kerangka teori, kerangka persepsi promotor, dan “kesregepan” menemui pembimbing dan ke lapangan, dst. Juga yang menjadi rintangan, terkait mata kuliah yang harus lulus semua terlebih dahulu, poses pasca selesai mata kuliah (proposal dll), dan juga ada syarat yaitu harus lolos test toefl. Mulai start menempuh jenjang tersebut, sampai finis, saya membutuhkan waktu 7 tahun. Dan lulus 4 tahun yang lalu. Waktu yang paling panjang selama saya menempuh pendidikan dari semua tingkatan. Ada yang baru lulus 8 tahun, ada yang 9 tahun, ada yang 10 tahun, tapi juga ada yang 4 tahun atau 5 tahun. Yang paling tragis, ada yang wa akhiru da’wahum tidak lulus. Iya, tidak lulus, tidak dapat menyelesaikan untuk meraih gelar doktor. Tentu biaya yang sudah dikeluarkan sangat besar. Puluhan juta dalam derajat tingkat atas. Kemarin, Jumat 18 Juni 2021, saya bersama Pak Rektor menghadiri undangan ujian terbuka yunior saya. Adik tingkat di Pascasarjana UIN Malang. Yang kebetulan mengajar di Institusi yang sama dengan saya di IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk. Bu Khurotin Anggraeni. Dia bisa menyelesaikan kuliah dengan biaya mandiri. Sama seperti saya saat itu. Tentu angka bisa mendekati ratusan juta atau bisa lebih, jika dihitung seluruh operasional, dengan rentang waktu jika lulusnya semakin lama, seperti saya saat itu, dan teman lain, yang lebih panjang dari saya. Bu Khurotin, alhamdulillah bisa mencapai titik puncak untuk menyelesaikannya dan meraih gelar Doktor dengan segala dinamikanya. Yang saya juga merasakan dinamika akademik yang panjang dan melelahkan tersebut. Untuk menyelesaikannya, Bu Khurotin membutuhkan waktu 5 tahun, dengan mengangkat judul Disertasi “Human Capital Management System’ A Multiside Study at State Universitas in Malang (State Iskamic University of Maulana Malik Ibrahim, State University of Malang, and Brawijaya University)”. Hebatnya Bu Khurotin, Desertasi tersebut ditulis dan disampaikan saat ujian terbuka dengan bahasa Inggris. Selamat Bu Dr. Khurotin Anggraeni, M.Pd.I. Semoga semua ilmu yang telah diperoleh manfaat dan barokah. Aamiin.