Untuk menuju ke arah kearifan lokal dan lebih menjaga karakter beretika, kreatif dari keilmuannya maupun dari tugas-tugas perkuliahan, maka baik mahasiswa S1 maupun Pascasarjana harus memulai memperbaiki diri sendiri. Hal ini disampaikan oleh moderator Dr. H. Soim., M.Pd.I., Wakil Rektor III Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk, saat Seminar Nasional & Call Paper di Aula Kampus, Kamis (17/10/2019).
Tujuan kegiatan seminar ini adalah untuk mendorong kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Pascasarjana untuk lebih kreatif. Untuk itu sangat penting menyiapkan pendidikan karakter berbasis pendidikan lokal, agar proses pendidikan yang menangani nilai -nilai kebaikan.
Beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya hadir dalam acara tersebut yaitu Prof. Dr. Suprapto., M.Ag (Direktur Pascasarjana UIN Mataram), Prof. Dr. Sumarji, SP., MP. (Guru Besar dari Unibraw Malang), Dr. H. Imam Junaris, M.H.I (Dosen Pascasarjana IAIN Tulungagung), dan Dr. Khowim, M.Pd.I (Dosen Pascasarjana IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk) serta Dr. Abdurahman, M.Ud (Dosen Pascasarjana IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk).
Dalam pembukaannya, Dr. Soim menyampaikan tentang pentingnya karakter beretika bagi seorang mahasiswa. Karena dengan karakter beretika dan kreatif dalam perkuliahan, maka mahasiswa akan lebih mudah menyelesaikan semua tugas kuliah khususnya penyusunan skripsi.
“Ini sangat penting karena etika dan kreatifitas mahasiswa itu menjadi cermin pribadi masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu Prof. Dr. Suprapto, M.Ag dalam kesempatannya mengajak mahasiswa untuk semangat dalam menyelesaikan studi di IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk. Terlebih bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.
“Jangan menjadi mahasiswa mapala (mahasiswa paling lama), ayo kita selesaikan sekarang. Khususnya bagi yang gegana yaitu gelisah galau dan merana karena skripsinya tak kunjung selesai,” ucapnya disambut tawa audien.
Dalam materinya, Prof. Suprapto memberikan kiat atau rumus, yakni 3M singkatan dari menulis, menulis, menulis. Untuk itu pihaknya meminta mahasiswa menulis mulai dari sekarang. Karena tidak ada kunci lain dalam penyelesaian skripsi kecuali menulis.
“Menulis apa saja yang penting menulis, sediakan waktu setiap hari untuk menulis,” paparnya.
Dia juga menyarankan mahasiswa, agar tidak melihat tulisan yang telah dibuatnya di minggu pertama dan kedua. “Jika baru dapat satu lembar kemudian kita koreksi maka dijamin tulisan berikutnya tidak akan lanjut. Caranya adalah tulis sampai selesai baru kemudian koreksi satu sampai 2 minggu berikutnya,” sarannya.
Sekitar 500 peserta sudah memenuhi Auditorium IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk sejak pukul 13.30 WIB. Antusias peserta dalam mengikuti seminar perdana di semester ganjil ini sangat luar biasa sehingga acara berakhir pukul 17.00 WIB.
Tinggalkan Komentar