Perguruan Tinggi sebagai sub system pendidikan nasional secara formal dituntut dapat menjabarkan butir-butir tujuan diatas dalam program operasional kegiatan belajar mengajar. Penjabaran tersebut diperlukan agar tercipta proses pembelajaran yang produktif, efektif, efisien. Dengan demikian sebuah Perguruan Tinggi diharapkan dapat menghasilkan alumni yang senantiasa berkembang dapat memenuhi harapan, tuntutan masyarakat. Mengacu pada ketentuan formal tersebut diatas, maka sebagai acuan umum dalam pengelolaan Perguruan Tinggi islam perlu merujuk pada hal-hal sebagai berikut :

  • Lembaga pendidikan tinggi harus dikelola secara professional, mampu memelihara norma akademis, yang memiliki standard kualitas sebagai lembaga pendidikan yang bermutu.
  • Berpedoman pada azas dan jati diri , sebagai lembaga pendidikan islam yang memiliki karakter yang khas tanpa keluar dari akar budaya setempat.
  • Alumni Perguruan Tinggi islam merupakan produk pendidikan tinggi yang memiliki standar kualitas dalam arti memiliki kemampuan komprehensif dan keunggulan komperatif yang setara dengan alumni pendidikan tinggi formal lainnya.

Keputusan pemerintah dalam neningkatkan kualitas sumberr daya manusia dengan tujuan supaya berperan aktif dalam percaturan global, merupakan suatu kebijakan yang tepat, karena tantangan yang dihadapi bangsa sangat sulit baik yang berhubungan dengan sosial, ekonomi, budaya, hukum, agama dan lainnya. Dalam peningkatan sumber daya manusia merupakan keharusan dalam membangun kehidupan Yang lebih baik.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa menempatkan lembaga pendidikan sebagai instrument sentral dalam pembinaan sumber daya manusia. Lembaga pendidikan merupakan wacana dan upaya mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan pelatihan, bagi perannya yang akan datang.

Dinamika pendidikan di lingkungan Perguruan Tinggi merupakan kenyataan yang telah menjadi sifat dasar dari segala yang ada dialam, termasuk manusia, lembaga lembaga yang dibangun semua lembaga baik keagamaan, kemasyarakatan, lembaga Perguruan Tinggi tidak ada yang luput dari dinamika kehidupan ini bahkan, kelestarian lembaga – lembaga itu sedikit banyak tergantung dan dipengaruhi oleh sejauh mana mereka dapat menyesuaikan diri dengan gerak perubahan tersebut.

Upaya penataan sistem pendidikan tinggi diarahkan untuk mengkaitkan otonomi manajemen agar kreativitas dan produktivitas akademika dapat menghasilkan kualitas kerja yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun kewenangan yang lebih luas di lingkungannya untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki, baik fisik, finansial, maupun sumberdaya manusia termasuk kurikulum. Pada cakupan mikro internal kewenangan diprioritaskan kepada unit unit terkecil, yaitu program studi dan jurusan untuk mengelola sumberdaya yang mereka miliki.

Di kabupaten Nganjuk telah ada lembaga pendidikan mulai dari jenjang kanak – kanak sampai pada jenjang menengah tingkat atas, yang sampai saat ini masih memerlukan penanganan yang lebih serius untuk menjaga kelangsungannya. Karena adanya tuntutan, perkembangan dan semakin majunya peradaban manusia sejalan dengan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan guna lebih meningkatkan mutu hikmahnya terhadap lembaga, nusa dan bangsa, salah satu cara yang ditempuh adalah mempunyai sumber daya manusia yang handal, serta mampu menjawab tantangan serta tuntutan perkembangan yang terus berjalan. Dalam konteks ini maka eksistensi lembaga pendidikan tinggi memiliki peran yang urgen.

Berdasarkan saran dan dukungan dari Drs. H. Moh. Maksum Farid,M.Hi Selaku Ketua STAI Diponegoro Tulungagung dan Drs. KH. Muhaimin Aziz, M.Hi selaku KAKANDEPAG Tulungagung yang kebetulan sebagai penduduk asli Nganjuk, memberikan motivasi yang kuat terhadap para alumni STAI Diponegoro Tulungagung yang ada di Kabupaten Nganjuk untuk mempersiapkan  studi kelayakan kemungkinan berdirinya perguruan tinggi Islam di kabupaten Nganjuk. Dari motivasi tersebut diatas maka muncullah tim kecil yang membidani persiapan pendirian PTAIS di kabupaten Nganjuk yaitu DR. H. Akhyak, M.Ag, Riduwan, M.PdI, dan Moh.Ali Yusron, M.Ag. Ketiga tim kecil tersebut setelah memperhatikan berbagai saran dan masukan dari tokoh masyarakat Nganjuk dan para alumni STAI Diponegoro Tulungagung di Nganjuk, maka kemudian mengawali langkahnya dengan mendirikan Yayasan Pangeran Diponegoro Nganjuk, dan membidani terbentuknya Panitia TIM pendiri Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta di Kabupaten Nganjuk.